NASIHAT PENYEMBAH BERHALA
Seorang saudagar kaya yang banyak bepergian untuk berdagang, suatu ketika datang di wilayah Turki yang penduduknya masih menyembah berhala. Kepada pemimpin mereka, si saudagar itu berkata menasehati, “Ini tidak benar; perbuatan menyembah berhala ini salah. Kita mempunyai Tuhan yang menciptakan semua makhluk. Tuhan yang memiliki sifat tidak sama dengan apa pun atau siapa pun. Tuhan yang menjamini rezki hamba-hambaNya…”
Belum lagi selesai bicaranya, si pemimpin para penyembah berhala menukas, “Ah, ucapanmu tidak sesuai dengan perbuatanmu.”
“Kok bisa?” sahut si saudagar.
“Kamu tadi bilang kamu punya Tuhan yang menjamin rezki hamba-hambaNya, tapi mengapa kamu bersusah-payah cari rezki sampai kesini?”
Mendengar kata-kata pemimpin para penyembah berhala itu, si saudagar pun langsung pulang, menyedekahkan seluruh hartanya, dan menjalani kehidupan yang sama sekali baru. Zuhud.
Saudagar itulah yang kemudian dikenal sebagai sufi besar Syaqieq Al-Balkhy (w. 194 H.).
Seorang saudagar kaya yang banyak bepergian untuk berdagang, suatu ketika datang di wilayah Turki yang penduduknya masih menyembah berhala. Kepada pemimpin mereka, si saudagar itu berkata menasehati, “Ini tidak benar; perbuatan menyembah berhala ini salah. Kita mempunyai Tuhan yang menciptakan semua makhluk. Tuhan yang memiliki sifat tidak sama dengan apa pun atau siapa pun. Tuhan yang menjamini rezki hamba-hambaNya…”
Belum lagi selesai bicaranya, si pemimpin para penyembah berhala menukas, “Ah, ucapanmu tidak sesuai dengan perbuatanmu.”
“Kok bisa?” sahut si saudagar.
“Kamu tadi bilang kamu punya Tuhan yang menjamin rezki hamba-hambaNya, tapi mengapa kamu bersusah-payah cari rezki sampai kesini?”
Mendengar kata-kata pemimpin para penyembah berhala itu, si saudagar pun langsung pulang, menyedekahkan seluruh hartanya, dan menjalani kehidupan yang sama sekali baru. Zuhud.
Saudagar itulah yang kemudian dikenal sebagai sufi besar Syaqieq Al-Balkhy (w. 194 H.).
No comments:
Post a Comment